Cintaku cinta lelaki

Jika harus berbohong akan kukatakan bahwa engkau tidaklah cantik. Tapi mengapa mataku tidak bisa tidak harus memandangnya. Hatiku linglung oleh aura damainya. Entah sihir dari mana yang dia semburkan sehingga, tuk menghindar dan menjauh saja begitu berat dan susahnya.
Sekali lagi, jika harus berbohong, biarlah aku disambar petir. Kau tidak lah secantik bidadari, namun entah mengapa dari lidahku selalu menyebutmu bidadari dari kahyangan yang kecemplung di muka bumi ini. Entah kenapa senyummu selalu mengundang rasa takjubku tuk berdecak tak henti bagai seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat sirkus.
Jika memang harus berbohong, tolonglah Tuhan, hapuskan saja dosa bagi manusia untuk perkara berbohong ini, lewatkan saja dari monitormu bahwa berbohong itu akan menimbulkan kebohongan baru yang lebih besar lagi. Dan tolonglah Tuhan, putuskan saja lingkaran setan yang mengurung bahayanya dusta dari mulut dan hatiku.

Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan (sayangnya) rentan, sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya.

Cintaku seumpama gunung ucap Garin Nugroho dalam sebuah dialog dalam salah satu adegan Bulan Tertusuk Ilalang.betapa menakjubkan bila mengingat perasaan yang meluap-luap, dan semoga cinta ini tidak rentan dimakan umur dan hilang dihapus usia.
Cintaku bukan apa yang dituliskan Garin dalam filmnya itu. Cintaku memang cinta lelaki, cinta yang angkuh seperti batu karang, tetap tegak berdiri walau dihantui abrasi dan tiupan angin.
Cintaku cinta lelaki menderu bak debu ditengah padang pasir, tak akan habis hingga tertumpuk menjadi bukit.

Jika harus jujur tolong sekarang ungkapkanlah rasa malumu dihadapan cintaku ini. Berikan keangkuhan yang kubutuhkan demi tunas yang semakin menjulang ini. Sayang, sungguh tak satupun kata cinta terucap dari mulutmu selama ini. Namun coba sekalah permukaan hatiku, ada cintamu disana.
Sekali lagi, jujurlah ! kutahu cintamupun semegah istana raja-raja yang sering diceritakan dalam pewayangan, cintamu bak arimbi merindu arjuna. Cintamu tiada luka didalamnya. Cintamu tulus, cintamu seputih kertas tak berisi. Namun dari hatimu belum ada semerbak cinta itu ditaman bunga kita.
Jika memang harus jujur, ada seberkas sinar disana, diantara dedaunan senja ada lembayung menggelayut mesra disana. Ada siluet air mata yang indah disana, ada rintik air hujan yang kan menhapus segala keluh kesah disana. Dan kau pun meneruskan dialog Garin sang maestro itu sayang :

Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.
Cintamu tak seangkuh cintaku ternyata, cintamu mengalir bak sungai menuju muara. Tenang tak bersuara tak terlihat riak menghanyutkan, cintamu bagai daun yang jatuh diatas riak itu, melandai, memberi keheningan bagi setiap yang dilaluinya. Cintamu tenang sayangku.
Cintamu bukan seperti batu karang, cintamu melenakan. Cintamu pun abadi. Tak kenal batas, tak kenal waktu. Cintamu tak terlihat namun nyata adanya. Bahkan akupun tak mampu melihatnya.

Kupersembahkan tuk kekasih hatiku, sebulan lagi sayang, sebulan lagi 3 ramadhan akan kita lewati bersama.




Add to Technorati Favorites

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.